 |
| P. Manadotua dilihat dari Tuminting |
Manado, Sulawesi Utara 2014. Satu dari beberapa hal yang menarik dari masyarakat di kota ini adalah sifatnya yang ramah dan bersahabat. Suasana kerukunan hidup beragama cukup nyata di kota Manado ini. meskipun mayoritas disini adalah Nasrani, tapi hampir tidak pernah terjadi konflik yang mengusung isu-isu SARA. Begitu pula dengan warga keturunan Tionghoa, semuanya hidup berdampingan dan rukun. Tampaknya daerah-daerah lain di Indonesia boleh meneladani konsep kerukunan hidup disini. Memang tidak semua konflik adpat terhindarkan, misalnya kejadian di kampus baru-baru ini, atau maraknya perang antar kampung dengan menggunakan "panah wayer" entah bagaimana penulisannya wire atau waier, pokoknya barang itu adalah sejenis senjata yang terbuat dari jari-jari sepeda motor atau sepeda biasa yang diluncurkan oleh semacam busur. Entah apa yang menjadi motif atau alasan munculnya perang-perang dengan menggunakan senjata tersebut.
Hal yang menarik lainnya bagi saya adalah keadaan alam yang masih asri atau "belum terjamah", terutama kawasan kota atau desa yang terletak di pinggiran Manado. Saya berkendara (motor) menyusuri pantai barat (kota Manado) hingga pantai utara (Kota Likupang) melalui desa-desa kecil yang bahkan tidak lebih besar dari kompleks-kompleks perumahan di kota besar. Selain desa-desa kecil yang tampak menyenangkan untuk ditinggali, saya juga melewati hutan-hutan atau paling tidak, perkebunan kelapa yang begitu luas. Jarang-jarang saya melihat pohon kelapa sampai ada di puncak bukit. Ya, benar memang hawa udara disini relatif panas, mungkin karena wilayah pantai, selain itu juga dekat dengan garis katulistiwa yah.... Meskipun begitu hawa panas yang saya rasakan disini agak (sedikit) berbeda dengan hawa panas di Jakarta atau Bandung (Bandung sekarang udah mulai panas euy), mungkin berhubungan dengan intensitas polusi udara. jadi hawa panas seperti di Jakarta atau Bandung masuknya kategori "local warming" hehe...

Struktur tanah di wilayah Minahasa ini memang cenderung berbukit-bukit meskipun kategorinya bukit-bukit kecil, menyebabkan terdapat beberapa jalan yang tadinya rata tiba-tiba menanjak/menurun dengan kemiringan yang buat saya lumayan curam, bahkan tidak sedikit bangunan-bangunan seperti rumah atau kantor yang berada di puncak bukit alias "nyengcle". Menurut saya belum terlambat bagi kota Manado untuk berkembang TIDAK seperti kota-kota besar lain di Indonesia. Dengan penataan yang terencana Manado masih dapat berkembang menjadi kota modern dengan masalah-masalah perkotaan yang minimal. Tinggal ada kemauan atau tidak dari pemerintah setempat. Daya tarik pariwisata sangat potensial, namun pengelolaanya masih memiliki peluang yang besar untuk lebih dapat dioptimalkan..
Sekitar 15 km dari kota Manado ke arah barat laut terdapat sebuah pulau berbentuk bulat dimana pulau tersebut merupakan sebuah gunung api nonaktif dengan ketinggian kurang lebih 750 m dpl.Sangat menarik untuk dikunjungi karena pinggiran pulau tersebut merupakan pantai yang juga memiliki taman laut. Posisinya bersebelahan dengan pulau Bunaken. Pesisir pantai berupa taman laut tersebut (katanya) juga tidak kalah dari keindahan taman laut Bunaken.
Menurut situs resmi pemerintah kota Manado, Puncak gunung Manado Tua merupakan tempat yang menyenangkan untuk
melihat kapal dan perahu layar mengarungi laut lepas, dan untuk
menyaksikan pesona daratan kota Manado. Lerengnya yang curam ditutupi
oleh hutan dan ladang. Di dasar daratannya dikitari oleh sebuah jalan
yang menghubungkan kedua desanya. Menurut masyarakat setempat, bukit
yang menjulang tinggi tersebut oleh Humansangduluge disebut “Bowon Petatehungang,” yang kemudian disingkat menjadi “Bowon Tehung,” yang artinya tempat paling atas untuk melihat. Dalam perkembangan selanjutnya, kata “Bowong Tehung” disingkat menjadi “Bowontehu” dan ada juga yang menyebutnya “Bobontehu.”.(http://www.manadokota.go.id/).

Seperti dijelaskan sebelumnya dari kota Manado menyusuri pantai barat hingga pantai utara Sulawesi Utara sampai di kota Likupang, terdapat pemandangan yang sangat menarik. Vegetasi memang dominan pohon kelapa, itulah mengapa provinsi Sulut terkenal sebagai daerah penghasil kopra, dan terkenal dengan makanan khasnya yaitu
Klapertaart alias tart atau
cake kelapa... nyamm.. Kembali lagi ke topik "alam yang indah", di perjalanan penulis menemukan sebuah jembatan, menyebrangi sungai yang luar biasa bersih selain itu hampir tidak ada tanda-tanda "kehadiran" pemukiman penduduk disekitarnya, yang mana pemandangan seperti ini jarang penulis temukan, terutama didaerah yang belum begitu jauh dari kota besar. Biasa saja sih sebenarnya hehe.... maklum seperti dibilang tadi jarang-jarang penulis menemukan spot seperti ini. Sungai-sungai yang dijumpai biasanya sudah banyak terkontaminasi baik sampah rumah tangga maupun sampah anorganik seperti kemasan-kemasan plastik yang pada dasarnya sudah tidak dapat diuraikan secara alami. Entah darimana awalnya kenapa segala macam jenis saluran air itu sampai dipersepsikan sebagai tempat yang sesuai sebagai tempat pembuangan sampah.
Dari Meras (Molas) terus ke arah utara masih menyusuri pantai barat Sulawesi Utara, penulis menemukan spot lainnya yang merupakan pantai (tidak ada pasirnya sih) pesisirnya dipenuhi tanaman bakau, dan kelihatannya seperti ada taman lautnya juga (meskipun penulis agak kurang yakin) hanya terlihat dari kejauhan bayangan laut dangkal yang sangat mungkin terdapat banyak terumbu karang di dasarnya.