Minahasa Utara 2014
| P. Manadotua dilihat dari Tuminting |
Hal yang menarik lainnya bagi saya adalah keadaan alam yang masih asri atau "belum terjamah", terutama kawasan kota atau desa yang terletak di pinggiran Manado. Saya berkendara (motor) menyusuri pantai barat (kota Manado) hingga pantai utara (Kota Likupang) melalui desa-desa kecil yang bahkan tidak lebih besar dari kompleks-kompleks perumahan di kota besar. Selain desa-desa kecil yang tampak menyenangkan untuk ditinggali, saya juga melewati hutan-hutan atau paling tidak, perkebunan kelapa yang begitu luas. Jarang-jarang saya melihat pohon kelapa sampai ada di puncak bukit. Ya, benar memang hawa udara disini relatif panas, mungkin karena wilayah pantai, selain itu juga dekat dengan garis katulistiwa yah.... Meskipun begitu hawa panas yang saya rasakan disini agak (sedikit) berbeda dengan hawa panas di Jakarta atau Bandung (Bandung sekarang udah mulai panas euy), mungkin berhubungan dengan intensitas polusi udara. jadi hawa panas seperti di Jakarta atau Bandung masuknya kategori "local warming" hehe...
Struktur tanah di wilayah Minahasa ini memang cenderung berbukit-bukit meskipun kategorinya bukit-bukit kecil, menyebabkan terdapat beberapa jalan yang tadinya rata tiba-tiba menanjak/menurun dengan kemiringan yang buat saya lumayan curam, bahkan tidak sedikit bangunan-bangunan seperti rumah atau kantor yang berada di puncak bukit alias "nyengcle". Menurut saya belum terlambat bagi kota Manado untuk berkembang TIDAK seperti kota-kota besar lain di Indonesia. Dengan penataan yang terencana Manado masih dapat berkembang menjadi kota modern dengan masalah-masalah perkotaan yang minimal. Tinggal ada kemauan atau tidak dari pemerintah setempat. Daya tarik pariwisata sangat potensial, namun pengelolaanya masih memiliki peluang yang besar untuk lebih dapat dioptimalkan..
Sekitar 15 km dari kota Manado ke arah barat laut terdapat sebuah pulau berbentuk bulat dimana pulau tersebut merupakan sebuah gunung api nonaktif dengan ketinggian kurang lebih 750 m dpl.Sangat menarik untuk dikunjungi karena pinggiran pulau tersebut merupakan pantai yang juga memiliki taman laut. Posisinya bersebelahan dengan pulau Bunaken. Pesisir pantai berupa taman laut tersebut (katanya) juga tidak kalah dari keindahan taman laut Bunaken.
Menurut situs resmi pemerintah kota Manado, Puncak gunung Manado Tua merupakan tempat yang menyenangkan untuk
melihat kapal dan perahu layar mengarungi laut lepas, dan untuk
menyaksikan pesona daratan kota Manado. Lerengnya yang curam ditutupi
oleh hutan dan ladang. Di dasar daratannya dikitari oleh sebuah jalan
yang menghubungkan kedua desanya. Menurut masyarakat setempat, bukit
yang menjulang tinggi tersebut oleh Humansangduluge disebut “Bowon Petatehungang,” yang kemudian disingkat menjadi “Bowon Tehung,” yang artinya tempat paling atas untuk melihat. Dalam perkembangan selanjutnya, kata “Bowong Tehung” disingkat menjadi “Bowontehu” dan ada juga yang menyebutnya “Bobontehu.”.(http://www.manadokota.go.id/).
Dari Meras (Molas) terus ke arah utara masih menyusuri pantai barat Sulawesi Utara, penulis menemukan spot lainnya yang merupakan pantai (tidak ada pasirnya sih) pesisirnya dipenuhi tanaman bakau, dan kelihatannya seperti ada taman lautnya juga (meskipun penulis agak kurang yakin) hanya terlihat dari kejauhan bayangan laut dangkal yang sangat mungkin terdapat banyak terumbu karang di dasarnya.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda